Dikritik Pengamat, Luhut: Saya Lama di TNI, 21 Tahun Saya di Kopassus

Nasional  
Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves), Luhut Binsar Pandjaitan.
Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves), Luhut Binsar Pandjaitan.

JAKARTA -- Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves), Luhut Binsar Pandjaitan meminta semua pejabat di Indonesia tidak rendah diri. Dia pun menunjukkan data nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama enam bulan terakhir, termasuk sejak Rusia menginvasi Ukraina, yang tetap stabil. Luhut mengingatkan, pengamat yang masih mengkritik kinerja pemerintah sebaiknya datang kepadanya menunjukkan data.

"Anda lihat nilai tukar rupiah kita masih bagus. Anda lihat tuh di bawah semua, Singapura yang hebat-hebat itu turun. Apa yang mau saya gambarkan Bapak Ibu sekalian, negeri kita hebat! Supaya kita tahu, kita ini hebat, kalau ada pengamat ekonomi, datang ke saya tunjukkan ke saya angka yang salah di mana," kata Luhut saat membuka acara Penyerahan Rekor Muri dan Closing Ceremony Business Matching, Belanja Produk Dalam Negeri 2022 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Kamis (24/3).

Menurut Luhut, capaian ekonomi yang bagus itu berkat kepemimpinan di Indonesia. Karena itu, ia meminta agar semua yang hadir tidak rendah diri. Dia menyebut, tidak hanya kepemimpinan tingkat nasional, melainkan juga ada peran bupati/wali kota dan gubernur yang turut membantu pertumbuhan ekonomi nasional. "Saya berhak ngomong dikit, karena saya paling tua, insya Allah saya 75 tahun, tahun ini," ucap Luhut.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dia pun kemudian membagikan pengalamannya ketika masih berdinas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sejak lulus Akademi Militer (Akmil) 1970. Pengalaman selama di TNI AD yang membuatnya bisa mengimplementasikan kepemimpinan di tingkat nasional.

"Saya lama di TNI, saya lama di Kopassus, 21 tahun saya di Kopassus dari saya pangkat Letnan sampai saya pangkat Kolonel. Hampir tidak ada operasi militer yang saya tak ikuti pada era itu," ucap Luhut.

Dia mengaku, selama di Kopassus belajar menjadi pemimpin. Bagi dia kepemimpinan adalah keteladanan. "Keteladanan dalam bersikap, bertindak, berpikir, berbuat dengan risiko nyawa kami. Mengapa? Saya terkadang harus maju paling depan, untuk menunjukkan kepada anak buah saya, hei saya juga punya risiko yang sama dengan kau untuk gugur di sini," kata mertua Pangkostrad Letjen Maruli Simanjuntak tersebut.

Luhut pun mengajak semua hadirin untuk belajar arti kepemimpinan. "Apa yang mau saya berikan kepada semua? Kita harus bisa begitu. Anda bukan dalam konteks pertempuran kok, makanya saya orang kritik, hei saya pernah mau mati di negeri saya sendiri beberapa kali."

Luhut juga mengajak agar semua pihak tidak mengkhianati hasil pembangunan yang sudah dirintis para pendahulu. Dia ingin agar semua pejabat pemerintahan mencintai negeri ini.

"Dan kita semua ayo kita jangan mengkhianati, orang-orang yang telah gugur mendahului kita, orang-orang yang membangun negeri kesatuan yang kita cintai. Saya titip nilai-nilai ini pada Anda. Anda mau kungfunya apa silakan, tapi ingat bangsa ini jadi saya, Anda, kita semua bisa duduk di sini karena mereka-mereka yang sudah gugur itu," kata mantan Dubes RI untuk Singapura tersebut.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image