Rusia Serang Ukraina, Tifatul Sebut Pabrik Senjata AS Untung

Umum  
Politikus senior PKS, Tifatul Sembiring.
Politikus senior PKS, Tifatul Sembiring.

JAKARTA -- Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Majelis Permusyawaratan Rakat (MPR), Tifatul Sembiring membuat analisis serangan Rusia kepada Ukraina. Dia pun menyinggung, serangan Rusia ke Ukraina saat ini, terkait dengan sejarah bubarnya Uni Sovyet. Ketika Uni Sovyet bubar, hal itu juga diikuti dengan runtuhnya Pakta Warsawa yang beranggotakan negara satelit di Eropa yang berkiblat ke komunis.

Sayangnya, Pakta Organisasi Atlantik Utara (NATO) malah semakin melebarkan sayap dengan merekrut eks angggota Pakta Warsawa. Terbaru, Ukraina malah ingin bergabung menjadi anggota NATO, yang membuat Presiden Rusia Vladimir Putin geram.

"Tahun 1991, Uni Sovyet bubar, pecahan-pecahannya terpuruk. Kaget demokrasi. Pakta Warsawa bubar, NATO tetap jalan, kerap 'dipake' kepentingan-kepentingan USA. Putin nggak mau pengaruh Rusia, kian mengecil. Ukraina malah merapat ke NATO. Ukraina diancam, nggak bergeming. Diserbu, korban berjatuhan," ucapnya melalui akun Twitter, @tifsembiring di Jakarta, Ahad (27/2/2022).

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Menurut Tifatul, NATO yang pernah berjanji siap membantu Ukraina malah hanya mengecam saja. Dia pun menukil guyonan lama jika kepanjangan NATO adalah No Action Talk Only.

"Yang sebelumnya ikut manas-manasi, tapi malah kabur. Pedagang-pedagang senjata, sudah mulai transaksi besar-besaran. Tentu dibeli dari gudang-gudang pabrik senjata Amerika, yang sudah lama menumpuk. Ini kan aset diam, mesti dialirkan biar dolar AS mengalir ke Washington," ucap Presiden PKS periode 2004-2009 tersebut.

Selain itu, kata Tifatul, invasi juga digunakan Presiden Putin untuk menjaga pengaruh dan gengsinya. Hanya saja, biaya perang terhitung sangat mahal. "Kerahkan hampir 200 ribu tentara, pesawat-pesawat, dan senjata-senjata canggih, minimal Putin keluarkan Rp 2 triliun per hari. Kalau ini selesai satu bulan, total Rp 60 triliun," ucapnya.

Meski begitu, Tifatul tidak yakin, perang bisa selesai dalam waktu sebulan. Apalagi, orang-orang pintar dan ahli strategi Uni Sovyet dulu banyak yang berasal dari wilayah yang sekarang masuk negara Ukraina. "Waktu wawancara dengan salah seorang Jenderal Ukraina, bincang tentang Rusia. Terkesan gengsinya sangat tinggi dan keras kepala. Mereka akan melawan habis-habisan," ucap Menteri Komunikasi dan Informati periode 2009-2014 tersebut.

Mengacu hal itu, Tifatul yakin, invasi Rusia sengaja dilakukan Presiden Putin untuk membuat Ukraina segera bertekuk lutut. Meski hal itu tidak mudah, Rusia akan habis-habisan menyerang Ukraina. "Hal ini juga berdampak ke seluruh dunia, harga minyak naik, emas merangkak, komoditas lainnya ikut naik," ujarnya.

Dia pun juga mengingatkan, perang Rusia versus Ukraina jangan dimanfaatkan politikus di Indonesia untuk mengambil keuntungan pribadi. "Tapi jangan pula, perang Rusia-Ukraina ini dijadikan alasan untuk menunda pemilu di Indonesia. Nggak ada sambungannya, mas," kata Tifatul menyindir beberapa elite yang mengusulkan agar Pemilu 2024 ditunda.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image