Dubes Lyudmila: Rusia Mengimpor Banyak Minyak Sawit dari RI

Nasional  
Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia (RI), Lyudmila Georgievna Vorobieva.
Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia (RI), Lyudmila Georgievna Vorobieva.

DEPOK -- Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia (RI), Lyudmila Georgievna Vorobieva menjadi pembicara utama pada kuliah umum di Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) pada Jumat (11/2/2022). Dia memaparkan sejarah panjang kerja sama antara pemerintah Federasi Rusia dan RI pada kuliah umum bertajuk 'Studium Generale: Russia, Indonesia, and The Indo Pacific' yang dilaksanakan secara daring.

Lyudmila Georgievna Vorobieva mengatakan, kedua negara memulai hubungan diplomasi secara resmi pada 3 Februari 1950. Sejak itu, sambung dia, Federasi Rusia dan Indonesia membangun kerja sama dalam berbagai bidang, meliputi transportasi, infrastruktur, energi, teknologi, agrikultur, dan sebagainya. Menurut dia, pemimpin negara maupun jajaran menteri Indonesia dan Federasi Rusia secara rutin melakukan konsultasi terutama dalam bidang keamanan.

Dalam bidang perdagangan, meskipun dalam situasi pandemi, kerja sama bilateral kedua mencapai angka tiga miliar dolar AS. Angka tersebut belum mencapai target yang ditetapkan oleh kedua negara, yaitu lima miliar dolar Amerika. Pada tahun 2021, perdagangan meningkat sebanyak 40 persen, sehingga target tersebut tidak sulit dicapai. Kerja sama Indonesia dan Rusia di bidang perdagangan mencapai surplus yang baik. Ekspor Rusia ke Indonesia didominasi pupuk, logam, minyak, dan gas. "Dari Indonesia, Rusia mengimpor banyak minyak sawit," kata Lyudmila dalam siaran pers Humas UI di Kota Depok, Senin (14/2/2022).

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Lyudmila juga membahas mengenai dinamika dalam konsep Indo-Pasifik. Federasi Rusia mendukung ASEAN Outlook on Indo-Pacific. Meski demikian, kata dia, Federasi Rusia menolak konsep Indo-Pasifik yang diajukan oleh negara Barat. Dia menyebut, Federasi Rusia menganggap, konsep Indo-Pasifik yang diajukan oleh negara Barat berusaha menggantikan mekanisme dialog kawasan Asia yang selama ini menjaga kestabilan kawasan melalui keterbukaan, inklusivitas, dan transparansi.

"ASEAN Outlook on Indo-Pacific merupakan dokumen yang memuat garis kebijakan ASEAN mengenai ruang lingkup, tujuan, prinsip, area kerja sama, dan mekanisme kerja sama Indo-Pasifik. Melalui dokumen ini ASEAN melihat Indo-Pasifik sebagai sebuah kawasan yang terintegrasi dan terkoneksi, megedepankan dialog dan kerja sama, menitikberatkan pembangunan untuk kesejahteraan, serta menjadikan aspek maritim sebagai elemen tata kawasan," kata Lyudmila.

Dia melanjutkan, dokumen itu memuat ruang lingkup kerja sama Indo-Pasifik yang mencakup kerja sama maritim, konektivitas, upaya mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, serta kerja sama di bidang ekonomi. ASEAN juga siap bekerja sama dengan mekanisme regional lain di kawasan Asia-Pasifik dan Samudra Hindia dalam kerangka kerja sama Indo-Pasifik.

Dekan FISIP UI, Semiarto Aji Purwanto berharap, meski kondisi tidak memungkinkan para peserta bertemu langsung, acara kuliah umum tersebut dapat memberikan wawasan mengenai hubungan antara Federasi Rusia dan Indonesia. "Meskipun diadakan secara virtual, saya harap tidak mengurangi semangat untuk berdiskusi tentang apa yang ditawarkan kebijakan luar negeri Rusia di Asia, termasuk Indonesia. Semoga kuliah ini bermanfaat untuk kepentingan bekal Indonesia-Rusia di masa depan," ucap Semiarto.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image